Saturday, December 30, 2017

"Be a grateful person", a lesson by my brother

"Be a grateful person". Kalimat yang sederhana, tapi, terucap dari kakakku, dalam situasi dan kondisi yang sangat spesifik, dan ditujukan padaku, - pada orang sepertiku, - menjadikannya memiliki arti yang mendalam.

Untuk memahami kenapa bisa demikian, setidaknya ada tiga hal yang perlu dijadikan dasar pemahaman;
- Orang seperti apa kakakku itu,
- Seperti apa situasi yang mengena itu,
- Orang seperti apa 'aku' ini (mari gantikan 'aku' dengan kita, karna ilmu ini akan berguna untuk siapapun).

Kakakku adalah seorang yang kuat. Terbukti kuat dengan melihat kepribadiannya saat ini, dibandingkan dengan apa yang ia alami dan pernah lakukan.
Kakakku tidak tumbuh dengan cukup kasih sayang dan perhatian. Ia tumbuh dengan didikan yang keras, baik secara verbal, maupun tindakan.
Semua didikan keras, hukuman, peraturan, dan sebagainya itu, tidak disertai dengan sentuhan hangat, obrolan keluarga, dukungan, atau sejenisnya.
Beranjak pergi dari rumah adalah menjalankan tugas memenuhi ekspektasi, dan pulang ke rumah adalah pertanggung jawaban yang penuh konsekuensi.

Hidup mengajarkan padanya, bahwa ia harus membela dirinya sendiri saat ia duduk di bangku SMP dan mengalami pem-bully-an.
Aku? Aku memerankan posisi adik yang seperti orang asing dengan sangat baik.
Ia mendorong keras fisiknya yang lemah, - karna tidak meminum asi pertama itu, - untuk berotot, besar, dan kuat. Mengalahkan asma, ketakutan, dan rasa sakit fisiknya.
Keceriaan dan kepolosannya kurasa sudah hilang sejak jauh sebelum itu.

Tuntutan prestasi masih berlanjut, kini bertambah dengan tuntutan peran dalam keluarga. Ada banyak sekali aturan dalam keluargaku yang dibuat tanpa suaraku dan kakakku, melanggarnya setidaknya akan mendatangkan konsekuensi verbal, lebih dari kata "tolol" atau "dibuang ke jalan".
Memang hanya kata-kata, tapi bukankah itu pun cukup untuk mengenai hati?
Terlebih tanpa ungkapan sayang atau kehangatan yang mengimbanginya.

Perhatian dari orang tua kami adalah materi yang dicukupkan tanpa kemewahan, karena mewah menggiring pada sifat manja.

Suatu hari, aku yang sangat menyayangi papa, bisa melihat kesedihan yang saaaaaangat besar dari mata kakakku. Lukanya sangat dalam hingga aku yang seperti musuhnya ini pun turut merasa sedih. Kakakku mengungkapkan betapa besar kebenciannya pada papa saat itu, dan aku hanya bisa diam.
"Kalau aku udah bisa pergi dari rumah ini, aku ngga akan pernah pulang lagi."
Aku sangat sayang papa, tapi perasaan yang terkandung dalam kalimat itu, aku bisa merasakannya juga.

Tahun demi tahun berlalu, aku tidak tahu bagaimana kakakku belajar, apa yang ia pelajari, dari mana ia mempelajarinya.
Ada waktu dimana ia sangat marah padaku, marah dalam konteks yang sangat serius. Ia bilang padaku, "Aku ngga mau tau urusanmu lagi.", yang dalam artian lain, kami bukan saudara lagi.

Ia berkata begitu karna aku tidak mau menyanggupkan diri untuk menyapu halaman setiap pagi.
Tapi bukan karna tidak adil, bukan karna ia "bekerja" lebih banyak di rumah daripada aku, juga bukan karna emosi sesaat.
Ia berkata begitu karna memandangku egois dalam keluarga. Kenyataannya, aku memang belum bisa menerima aturan keluarga yang aku tidak ikut serta menyusunnya, jadi yang kusanggupi hanya memasak setiap pagi dan sore.

Ia marah karna menimbang banyaknya aturan dalam rumah; sapu halaman depan, samping, belakang dua kali sehari, sapu bagian dalam rumah di lantai bawah, atas, teras bawah dan atas setiap hari, mengepel setiap weekend, masak dua kali sehari, memberi makan ternak, siram tanaman di halaman depan, samping, kebun belakang, teras atas. Sedangkan kami semua bekerja penuh waktu.
Luas halaman depan sekitar 120m2, samping sekitar 84m2, belakang ada 120m2 + 180m2 kebun, yang tadinya dikelilingi bambu hias yang rajin sekali menggugurkan daun.
Lantai bawah sekitar 300m2 dengan 8 ruang, lantai atas sekitar 260m2 dengan 6 ruang.
Masakan di atas meja selalu ada belasan ragam. Satu kali memasak memakan waktu minimal 90menit.
Penghuni rumah: 4 orang.

Kalau kupikir sekarang, benar sekali kalau penolakanku untuk berbagi tugas itu egois. Dibagi tugas untuk menyapu 2 bagian rumah saja rasanya berat, apalagi kalau aku menolak membantu.
Tiga jam perhari yang kugunakan untuk ikut memasak itu sangat cukup untuk menyedot tenagaku, tapi sangat tidak cukup untuk memenuhi peran dalam keluarga.

Aku saat itu belum paham kalau aturan "keluarga" harus dipikul bersama, ketika salah satu menolak, yang lain jadi terbebani lebih. Kalau 'jika tidak ada yang melakukannya, maka pekerjaan itu benar-benar terbengkalai'.

Kakakku marah karna aku memilih mencari kebahagiaan yang tidak kudapat di rumah, dari luar rumah.
Sedangkan aku, merasa tidak ikut dilibatkan untuk 'merancang aturan rumah', tidak ingin ikut bertanggung jawab atas obsesi pribadi yang dibuat sendiri.
"Kalau aku selalu harus mengurus kesusahanku sendiri, kenapa orang lain senang sekali memaksakan kehendak mereka untuk menyertakanku dalam kesusahan mereka?"
Sampai sejauh itu, ke-egoisan terbesarku adalah menolak dirugikan oleh ke-egoisan orang lain. Begitupun, aku sudah menerangkan kalau "kita tidak perlu menyapu dua kali sehari, setiap hari, kita tidak perlu masak belasan lauk.", tapi aku tidak punya suara.


...

No comments:

Post a Comment